Sunday, June 10, 2007

Jejak Mandailing


Jejak Mandailing

Dalam kumpulan cerita pendek dan puisi berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumpuk-Rumpuk, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1872, Willem Iskander melukiskan pemandangan tanah leluhur Mandailing dalam salah satu puisinya yang berjudul 'Mandailing'

O Mandailing godang! O Mandailing Raya!
Tano ingananku sorang Tanah tempatku dilahirkan
Na niatir ni dolok na lampas Yang diapit gunung yang tinggi
Na nijoling ni dolok na martimbus Yang diatap gunung berasap
Ipulna na laing bubus Asapnya mengepul terus

Tor Sihite tingon julu Gunung Sihite di hulu
Patontang dohot tor Barerang Berhadapan dengan Gunung Barerang
Gunung-gunungna manompi Lubu Punggungnya mendukung Lubu
Boina mangadop tu dolok Sigantang Keningnya menghadap Gunung Sigantang

Muda utailion tu utara Jika kupandang ke utara
Lao manindo tu irisanya Sambil menatap ke timur laut
Jongjongma uida Lubukraya Kulihat tegak Lubuk Raya
Asa manjoling dolok Malea Dan mengerling Gunung Malea

Muda utindo tingon Bania Jika kupandang dari Bania
Utatapma aek ni Batanggadis Kulihat air Batang Gadis
Mangelduk-elduk dalan nia Berkelok-kelok alirannya
Atir kamun jior mar baris Kiri kanan jaur berbaris

Lebih satu abad telah berlalu, tapi pemandangan tano ruro Mandailing yang digambarkan oleh Willem Iskander, masih seperti yang terlukis dalam puisi tersebut. Foto-foto yang dipamerkan dalam pameran ini, kurang lebih mencerminkan Mandailing yang terpelihara, bukan karena kepemerintahan yang baik, tapi secara kebetulan malah karena keterbelakangannya - terbiar dan terlantar.

Berdasarkan kisah yang diriwayatkan oleh Radja Moelia, akibat perang saudara, tanah Mandailing telah terbagi menjadi 'Mandailing Djoeloe' and 'Mandailing Djae', masing-masing diperintah oleh marga-marga yang saling bersaingan hingga saat ini. Batas antara keduanya terletak di Batoe Gondit dan Ajoeara sidjoembe Porang.

Sementara batas dengan Sumatra Barat terletak di Si Badoer, dengan Angkola di Si Marongit, dengan Natal di Lingga Bajoe dan dengan Padang Bolak di Roedang Sinaboer.

Pada masa penjajahan kolonial Belanda, batas dan wajah tanah Mandailing mengalami perubahan besar. Sebelum campur-tangan Belanda, Pasaman (dekat Rao dan Air Bangis) di selatan tanah Mandailing adalah sebagian dari daerah wewenang budaya Mandailing. Sekarang wilayah ini menjadi sebagian dari kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sebelah timur, alam Mandailing sampai ke Dalu-Dalu, diambil oleh Belanda dan dijadikan bagian dari keresidenan Riau. Sementara di sebelah utara, tanah ibunda Mandailing mencakup Kotapinang Langgapayung, yang dimasukan Belanda ke dalam residensi Sumatra timur. Di sebelah Barat, tanah Mandailing meliputi hingga ke pantai Barat pulau Sumatra.

Kabupaten Madina
Lebih dekat ke zaman sekarang, Parada Harahap yang mengunjungi tanah Mandailing pada tahun 1925, pernah mencatat:

'Sebelah Barat dari tanah Mandailing kedapatan boekit Barisan, sehingga Batang Gadis soesah melaloeinja, oleh sebab itoe terdjadi disana air mantjoer jang dinamai "Loempatan ni Babiat" - "Tempat Harimau melompat". Batasnja dengan Mandailing Ketjil ja'ni tanah tinggi Maga separoehnja garis loereos jang mempersamboengkan Tor Sihite menoedjoe ke selatan teroes ke Dolok Toedjoe.

Lembah Batang Gadis dan Loeboe Batang Angkolalah jang menjadikan Lembah Mandailing Besar, itoelah jang teroetama sekali dalam daerah Mandailing. Ditengah-tengah kedapatan seboeah lembah jang lebarnja 6-12K.M. Sebagian ketjil dari lembah jang terseboet oempamanja sekeliling negeri Panjaboengan kedapatan sawah jang amat loeas, sebagiannja dimana batang Angkola dan Batang Gadis bertemoe, disitoelah terdjadi paja-paja (10.000 H. A. loeasnja) tempat bersarang penjakit malaria.

Mandailing Ketjil letaknja 400 M. diatas moeka laoet dengan beberapa poentjak-poentjak goenoeng (1800 - 2000 M.) sangat sehatnja. Tetapi bagian Selatan tanahnja koerang soeboer apalagi pada batas keresidenan Sumatra Barat'. (Parada Harahap, 1926: 116)

Dari masa Willem Iskander hingga masa Parada Harahap sampai masa sekarang, telah terjadi transformasi mendasar terhadap pandangan hidup dan karakter orang Mandailing lewat rekayasa sosio-budaya, administratif, politik dan ekonomi, manakala pengatur dan pembuat peta Belanda mengubah peta wilayah Mandailing. Etnografi Belanda mengubah identitas kultural orang-orang Mandailing dan mengklasifikasikan mereka sebagai Batak (Batak-Mandailing atau Angkola-Mandailing) dan tanah leluhur Mandailing menjadi sebagian dari tanah Batak.

Lantaran dikategorikan Batak, tanah leluhur Mandailing dan orang Mandailing kurang mendapat perhatian meskipun sumbangan mereka pada masyarakat, politik, musik, literatur dan sejarah percetakan baik di Indonesia maupun di Malaysia, agak besar. Ini karena para peneliti merasakan bahwa kalau mereka sudah meneliti Toba yang merupakan Batak, sama artinya mereka sudah meneliti Mandailing pula, karena mereka mengira Toba itu representatif semua suku yang dikategorikan Batak.

Diantara atribut terkemuka orang-orang Mandailing ialah tradisi kepemerintahan pribumi yang konsultatif dan egalitir, yang diatur oleh adat Dalian na Tolu, sistem kemargaan, tradisi silsilah susur galur, musik Gordang Sambilan yang ritualistik; dan tradisi literatur dan historiografi yang kuat. Habitat mereka terletak di tanah tinggi dengan pengairan yang baik dan tanah rendah yang berawa-rawa. Sumber ekonomi produktif mereka diantaranya adalah bercocok tanam padi, perkebunan karet, kayu manis, gula aren, kopi dan penambangan mas.

Saat ini, tanah leluhur Mandailing masuk dalam kabupaten Mandailing Natal diikuti dengan pemberian status otonomi daerah pada tahun 1998. Penamaan Kabupaten Mandailing-Natal yang kini lebih dikenali sebagai Madina semoga secara tidak langsung membawa berkah pada Mandailing, yaitu menjadi Madina tempat berdaulatnya dinul Islam Madinah.


Jejak Mandailing
Terpanggil untuk mengisi kekurangan penelitian dan perhatian terhadap Mandailing-Natal, maka saya dan Arbain Rambey, Koordinator Sumbagut Koran KOMPAS, serta ditemani oleh Binsar Bakara dan Selva Kumar, dari markas kami di rumah Mamak saya Raja Syahbudin Nasution di Maga, bersama-sama menjelajahi dan menjejaki tanah Mandailing, mencari pemandangan, situs dan momen-momen yang menarik sekaligus istimewa untuk dijadikan bahan yang dipamerkan hari ini.

Tanah tinggi Maga menjadi pusat kompas dari mana kami menelusuri ke ujung dunia alam Mandailing seperti Simpang Banyak, Pagar Gunung, Huta Julu di Pakantan, Natal, dll. Mengingat waktu yang kami miliki hanya dua minggu, tidak lah mungkin terjelajahi seluruh tanah Mandailing oleh kami, ada beberapa tempat yang tidak sempat kami kunjungi seperti Lompatan ni Babiat yang disebut oleh Parada Harahap dalam catatannya. Kami berharap pada masa mendatang kami dapat mengunjungi tempat-tempat lainnya yang belum kami datangi.

Dengan kata lain, pameran yang bakal anda saksikan ini sekaligus mencerminkan keterbatasan tersebut dan ambisi kami untuk mengangkat persada Mandailing. Foto-foto pameran ini, mengetengahkan evolusi atau peralihan alam Mandailing dari masa pra-Islam, termasuk Hindu-Buddha, kepada masa Islam, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga ke masa pasca-merdeka.

Pendekatan yang kami pakai untuk mewarnai pameran ini ialah pendekatan warisan budaya yang diilhami oleh pandangan tradisional Mandailing seperti yang terungkap dalam bahasanya, cerita-cerita rakyatnya dan lingkungannya. Justru berbeda dengan tanggapan atau pandangan yang melihat Mandailing sebagai sumberdaya untuk dieksplotasi dan dijarah bagi mendatangkan pendapatan ekonomi semata tanpa menghiraukan dampak negatifnya pada penduduk Mandailing dan habitatnya.

Harapan kami, pameran bertemakan Jejak Mandailing ini akan menyadarkan kita tentang potensi Mandailing sebagai daya tarik pariwisata khususnya bagi pencinta alam dan wisata budaya baik dari Malaysia, Indonesia maupun dari luar negeri. Inilah visi dan misi kami, yang terpapar dalam pameran ini, semoga kiranya mendapat dukungan anda semua.#