Wednesday, September 19, 2007

Saat "Setan Keuangan" Manguasai Dunia


RESENSI

Judul Buku : Satanic Finance, True Conspiracies
Penulis : A. Riawan Amin
Penerbit : Celestial Publishing
Cetakan I : April, 2007
Tebal : xvi + 150 halaman

Saat “Setan Keuangan” Menguasai Dunia
Oleh: Emil W. Aulia

JELAS ada yang tidak beres dengan dunia kita saat ini. Hari ke hari, jumlah orang miskin terus bertambah. Kota dan desa dipadati para penganggur sementara pabrik dan industri di sekitar mereka terus berproduksi, mengeksploitasi kekayaan bumi. Ironis, ada daerah yang kaya sumber daya alam namun penduduk di sekitarnya kurang gizi bahkan kelaparan.

Sejumlah usaha telah dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Pelbagai kebijakan ekonomi dan proyek pengentasan kemiskinan diluncurkan namun tidak satupun yang benar-benar berhasil saat diterapkan. Jauh panggang dari api. Dunia, masyarakat kita, terus terperosok dalam krisis ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan.

Sementara itu, inflasi kian memperburuk keadaan. Nilai uang merosot, harga barang dan jasa melambung. Otoritas moneter berjuang menekan laju inflasi namun secanggih apapun pendekatannya, akar inflasi tak pernah sungguh-sungguh bisa dihancurkan. Benar kiranya Robert Mundell. Dunia saat ini, kata peraih nobel ekonomi itu, memasuki apa yang disebut rejim inflasi permanen.

Kenapa tak satupun tindakan yang benar-benar mampu mengubah keadaan? Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia, A. Riawan Amin punya pandangan tak biasa. Bankir bank syariah terbesar di Indonesia itu berpendapat, semua itu terjadi karena sistem ekonomi yang kita gunakan saat ini mengandung cacat laten. Walhasil, apapun kebijakan yang dilahirkannya, –dengan segala turunannya-- sama sekali tidak akan mampu memperbaiki keadaan.

Pandangan Riawan itu terbentang dalam buku terbarunya, Satanic Finance, True Conspiracies. Membaca buku Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia ini sungguh menyentak kesadaran sebab ia meruntuhkan pelbagai teori dan praktik keuangan moderen yang selama ini kita anggap benar dan final. Sistem ekonomi moderen adalah “sistem setan”, demikian istilah yang dikenalkannya. Sistem itu hidup karena ditopang Three Pilars of Evil (tiga pilar setan). Pertama, fiat money –uang kertas. Kedua, fractional reserve requirement --cadangan wajib bank. Ketiga, interest –bunga.

Mari menyigi satu persatu. Berapa banyak di antara kita menerima begitu saja penggunaan uang kertas. Riawan menyingkap, dibalik pembuatan uang kertas terdapat muslihat. Uang kertas diciptakan dari ketiadaan karena penerbitannya tidak disokong emas atau perak. Itulah makna fiat money. Uang kertas bernilai --persisnya dianggap bernilai-- hanya karena diberi cetakan angka oleh otoritas moneter yang menerbitkannya. Selebihnya, uang kertas hanya lembaran kertas biasa, tak berbeda dengan kertas cetakan lainnya Disebabkan terbuat dari ketiadaan, maka fiat money juga rentan spekulasi. Saat penciptaannya melebihi jumlah barang dan jasa yang bisa diproduksi maka inflasipun terjadi.

Melalui fiat money pula, kolonialisasi moderen dijalankan. Tidak perlu serangan militer untuk menguasai negara lain. Negara yang punya mata uang kuat, bisa membuat negara yang mata uangnya lemah, bertekuk lutut. Uang kertas dolar Amerika Serikat (AS), sebut buku ini adalah contoh nyata bagaimana AS mudah menjajah dunia. Penerapan sistem uang kertas, memungkinkan AS mempermainkan nilai mata uang negara-negara ketiga yang bersandar kepadanya. Penerapan uang kertas dalam sistem keuangan dunia adalah konspirasi.

Pilar kedua, fractional reserve requirement (FRR) --kebijakan yang menempatkan bank sebagai pihak yang leluasa mengucurkan pinjaman (kredit) kepada deposan. Disini, bank, termasuk bank sentral, ikut mencetak fiat money lalu menggandakannya. Pilar kedua ini bertemali dengan pilar ketiga; interest (bunga) –praktik lumrah berikutnya dalam perbankan.

Bank memungut bunga karena beberapa alasan: biaya servis atas transaksi pinjaman (utang) atau kompensasi mendapatkan hasil produktif bila uang tersebut diinvestasikan dalam bentuk lain. Apapun alasannya, Taurat, Injil dan Al Quran melarang memungut bunga karena hal itu tergolong riba. Seluruh kitab agama langit sepakat, mengambil riba (bunga) menyebabkan pelbagai kerusakan. Dalam praktiknya, bunga menuntut tercapainya pertumbuhan ekonomi yang terus menerus, kendati kondisi ekonomi aktual sudah jenuh dan konstan. Bunga mendorong persaingan di antara para pemain dalam ekonomi. Bunga memosisikan kesejahteraan pada segelintir minoritas dengan memajaki kaum mayoritas. (hal. 48).

Tidak sekedar menyingkap borok satanic finance, Riawan memberi solusi menghadapinya yaitu tinggalkan riba dan kembali pada mata uang dinar emas dan dirham perak. Riawan yakin, dengan melakukan dua hal ini maka “tiga pilar setan” akan runtuh dengan sendirinya. (hal. 112).

Dinar adalah koin emas murni seberat 4,25 gram; dirham adalah koin perak seberat 3 gram. Keduanya patut dijadikan mata uang alternatif pengganti fiat money. Dinar-dirham bernilai ril karena terbuat dari logam mulia (commodity currency). Ini berbeda dengan uang kertas yang hakikatnya tak lebih dari kertas cetakan belaka, nihil karena tak mewakili nilai emas atau perak. Potonglah sekeping dinar emas menjadi bagian-bagian kecil, seluruh bagiannya tetap berharga namun guntinglah selembar uang kertas maka ia sama sekali tak akan berguna.

Disebabkan kandungannya, dinar dan dirham lebih stabil nilainya ketimbang fiat money. Sejarah menunjukkan, dinar tak mengenal inflasi sementara fiat money adalah biangnya inflasi. Tidak heran bila banyak kalangan menyebut dinar-dirham sebagai mata uang surga (the heavens currency). Maksudnya, bukan mata uang yang digunakan di surga melainkan sebagai penjaga keadilan yang menjadi salah satu ciri penghuni surga (hal. 107).

Dinar-dirham hanya sekadar nama. Esensinya, keduanya adalah logam berharga: emas dan perak. Sejarah menunjukkan, ribuan tahun peradaban manusia menempatkan emas dan perak sebagai alat moneter. Koin emas pertama kali digunakan 500 tahun sebelum masehi tatkala Raja Croesus berkuasa hingga ke era Julius Caesar dan Kaisar Nero. Dinar sendiri dikenal sebagai mata uang Byzantium dan dirham dari Persia. Belakangan, Nabi Muhammad SAW mengakuinya sebagai mata uang. Koin emas dan perak terakhir digunakan sebagai mata uang pada tahun 1924 seiring jatuhnya Kekhalifahan Osmaniah di Turki.

Pamor dinar yang meredup selama lebih setengah abad, kembali dihidupkan oleh Syeikh Dr Abdalqadir as-Sufi. Pertengahan Agustus 1991, tokoh sufi di Eropa itu mengeluarkan fatwa haram penggunaan uang kertas sebagai alat tukar. Dinar-dirham dicetak kembali oleh Islamic Mint Spanyol tahun 1992 di bawah kewenangan World Islamic Trade Organization (WITO).

Tidak seperti buku ekonomi yang umumnya terkesan berat, membaca buku ini justru enteng. Dengan bahasa yang ringan, Riawan merangkai semua gagasannya melalui kisah suku Sukus dan Tukus yang hidup di pulau imajiner bernama Pulau Aya dan Pulau Baya. Melalui kisah mereka, alumnus Institut Teknologi New York dan Universitas Texas, AS itu mengajak pembaca menjelajahi sistem satanic finance, siapa koleganya, bagaimana trik dan dogmanya. Riawan menunjukkan dengan cemerlang, penerimaan kita pada uang kertas dan riba adalah biang pelbagai kerusakan ekonomi yang diiringi krisis kemanusiaan lainnya.

Sepanjang penceritaannya, penulis buku laris The Celestial Management itu menghidupkan sosok setan sebagai tukang cerita. Lewat sudut pandang tokoh terkutuk inilah, Riawan membentangkan data seputar carut-marut satanic finance. Usai membaca buku ini, kita dihadapkan pada dua pilihan: berdamai dengan sistem keuangan yang berlaku sekarang dengan segala bencana yang ditimbulkannya atau memilih aturan baru yang sama sekali berbeda untuk menyelamatkan keadaan. Buku yang ditulis Director International Islamic Financial Market ini patut dibaca bagi siapapun yang menginginkan pilihan kedua. ***

Emil W. Aulia, peminat kajian numismatika

Sunday, July 22, 2007

Jaffar Lubis, Melestarikan Tanpa Memaikan


Foto Arbain Rambey
Jaffar Lubis, Melestarikan Tanpa Memainkan

MENURUT etnomusikolog dari Universitas Sumatera Utara, Irwansyah Harahap, alat musik perkusi terbesar di dunia adalah gordang sembilan milik masyarakat Mandailing di Sumatera Utara (Sumut) bagian selatan. Dengan jumlahnya yang sembilan buah dan dengan gordang terbesar sepanjang sekitar dua meter, sungguh alat musik ini memang besar. Empat orang dibutuhkan untuk memainkannya.

Namun, saat ini, di tengah merajalelanya musik pop, gordang sembilan, seperti juga alat musik tradisional lain, makin tergeser perannya. Selain itu, makin sedikit pula orang yang bisa membuatnya. Di antara yang sedikit itu, tersebutlah sebuah nama: Jaffar Lubis.

Dijumpai Kompas di Desa Manambin, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut, Jaffar Lubis terlihat sedang mengerjakan satu perangkat gordang sembilan di halaman rumahnya. Pria yang kurus tinggi ini namanya memang sering disebut di Mandailing kalau lagi membicarakan masalah gordang sembilan. Beberapa buatannya sudah sampai di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura. Bupati Madina pun memesan kepadanya untuk kepentingan koleksi kabupaten.

"Saya bisa membuat gordang sembilan secara otodidak. Tetapi, saya pun tidak bisa memainkannya sama sekali," kata Jaffar Lubis.

TERNYATA masalah memainkan dan membuat tidaklah harus seiring sejalan. Gordang sembilan dalam sejarahnya memang tidak bisa dimainkan sembarang orang. Ada upacara tertentu untuk membuka selubungnya, untuk lalu dimainkan dalam perayaan-perayaan besar.

"Saya tinggal di Manambin bagian bawah. Gordang desa ada di Manambin atas. Jadi, sejak kecil saya memang tidak punya kesempatan untuk memainkan gordang yang ada di depan balai desa," kata Jaffar Lubis, menjelaskan ketidakbisaannya memainkan gordang sembilan.

Namun, Jaffar Lubis, yang mulanya magang pada temannya dalam membuat gordang, akhirnya justru menjadi maestro pembuat yang selalu dicari. Sudah dua puluh tahun pria kelahiran 26 Januari 1960 ini berkecimpung dalam pembuatan gordang, dan dalam rentang itu sudah belasan alat musik ini dihasilkannya.

Bagi Jaffar Lubis, membuat gordang adalah menciptakan sebuah karya yang akan dinikmati banyak orang. Adalah kebanggaan besar bagi dirinya kalau dalam sebuah upacara besar karyanya dipakai dan para hadirin hanyut dalam indahnya suara gordang buatannya itu.

"Kebahagiaan saya kalau orang senang dengan suara gordang buatan saya. Uang menjadi tidak berarti lagi," kata suami Barinjen Daulay ini.

Untuk satu perangkat gordang sembilan dengan ukuran normal, JaffarLubis meminta upah lima juta rupiah. Barang harus diambil sendiri ke Manambin, karena dia memang tidak menerima jasa antar. Kata "ukuran normal" ini perlu ditekankan, sebab kini mulai terjadi aksi jor-joran dalam ukuran gordang sembilan.

"Ada beberapa orang yang ingin memesan gordang sembilan dengan ukuran yang lebih besar dari milik bupati dengan alasan gengsi. Padahal, ukuran yang terlalu besar membuat suara gordang buruk," katanya.

SEBUAH set gordang sembilan dengan ukuran normal, menurut Jaffar Lubis, bisa didapatkan dari sebuah pohon utuh yang panjangnya sekitar 12 meter.

"Dengan diambil dari satu pohon utuh, sebuah gordang punya sifat sama pada kesembilan bagiannya. Bagi saya, sembilan gordang dari satu pohon adalah sebuah kesatuan yang kokoh dan dalam segalanya tidak terpisahkan," tuturnya.

Dari pengalaman Lubis, untuk set terbaik gordang sembilan, gordang terbesarnya berukuran panjang 165 sentimeter, diameter atas 43 sentimeter dan diameter bawah 40 sentimeter. Ukuran selanjutnya dari gordang dua sampai sembilan adalah, 160-40-38, 155-30-35, 150-35-32, 140-32-30, 135-30-28, 130-28-25, 125-25-23, dan 110-22-20.
Dibandingkan dengan harga alat musik modern yang lebih tinggi dari sekadar lima juta rupiah, kerja keras Jaffar Lubis memang jadi tampak tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Untuk membuat sebuah perangkat gordang sembilan, hal pertama yang dilakukan Jaffar Lubis adalah "berburu pohon". Ia memerlukan waktu sekitar sebulan keluar masuk hutan untuk mendapatkan pohon yang sesuai. Kayu yang terbaik yang bisa didapatkan di Tanah Mandailing adalah kayu ingol atau surian.

"Tapi, kini makin sulit untuk mendapatkan pohon besar lagi. Terlalu banyak pembabatan hutan," kata ayah lima anak ini.

Tidak seperti di abad lalu, Lubis mengatakan bahwa ia tidak merasa perlu berpuasa atau melakukan upacara tertentu dulu untuk membuat sebuah perangkat gordang sembilan. "Saya natural saja," katanya.

Persiapan terpenting yang dilakukannya adalah memahami benar keinginan pemesan, lalu menyiapkan bekal secukupnya untuk keluar masuk hutan selama sekitar sebulan. Hutan favoritnya dalam mencari kayu untuk gordang adalah Gading Baing yang tidak jauh dari Manambin, desanya.

SETELAH mendapatkan sebuah pohon yang cocok pun bukan berarti separuh tugasnya selesai. Ia harus segera kembali ke kampungnya untuk membawa aneka peralatan yang dibutuhkan guna memotong pohon dan melubangi bagian tengahnya."Kayu harus saya potong-potong dengan panjang yang tepat, lalu saya lubangi tengahnya agar ringan. Semua itu saya kerjakan di tengah hutan yang sering di permukaan tanahnya sangat miring," papar pria yang selalu tersenyum ini.

Pengerjaan di hutan adalah bagian tersulit dalam pembuatan seperangkat gordang sembilan. Selain tempatnya yang sangat tidak sesuai untuk sebuah bengkel kerja, kesalahan di sini sama sekali tidak bisa diperbaiki lagi. Kesalahan memotong panjang sebuah gordang membuat potongan itu lalu menjadi tidak berguna. Akibatnya yang lebih panjang lagi, perangkat gordang itu akhirnya bukan terbuat dari satu pohon yang sama.

"Ada perasaan tidak lengkap di situ," kata Lubis. Itulah sebabnya, bagi dia, pengerjaan awal di hutan adalah bagian terberat dan terpenting pada pembuatan sebuah perangkat gordang sembilan. Ia lalu menceriterakan pengalaman pembuat gordang di masa lalu, yang masih berjumpa harimau sumatera di tengah hutan.

Kerja yang dilakukan di rumah adalah memberi sentuhan terakhir pada gordang, termasuk memasang kulit sapi putih sebagai bagian yang dipukul nantinya."Kulit sapi yang dipakai haruslah kulit pilihan. Saya sudah punya orang yang selalu bisa memberikan kulit terbaik," katanya. Dan, menurut dia, "Kulit yang baik adalah yang tidak terlalu tebal dan juga tidak terlalu tipis. Ada kekeringan tertentu yang harus dicapai saat dipasangkan di badan gordangnya."

AKHIRNYA, hasil akhir sebuah gordang yang baik terletak pada pemainnya juga. Pemain pertama yang memainkan gordang 1, 2, dan 3, yang disebut jangat, sangat berperan pada permainan total. Yang memainkan gordang 4 dan 5 disebut jogo-jogo, pemain gordang 6 dan 7 disebut udong-udong, sedangkan pemain gordang 8 dan 9 disebut tepe-tepe.

"Saya bahagia bisa ikut melestarikan kesenian ini, walau tidak bisa memainkannya," kata Lubis dengan tatapan mata yang berbinar-binar. (ARBAIN RAMBEY)

http://kompas.com/kompas-cetak/0302/28/naper/152548.htm

Saturday, July 21, 2007

Pintu Rasionalisme Harun Nasution

Pintu Rasionalisme Harun Nasution

Teologi fatalistik adalah biang kemunduran masyarakat muslim. Harun Nasution (1919-1998) menawarkan teologi Mu'tazilah yang rasional sebagai pengganti teologi Asy'ariyah.


Nasib Mu'tazilah, mazhab teologi paling rasional dalam sejarah klasik Islam, bisa diibaratkan mutiara yang tertutup debu. Berharga, tapi tak banyak ulama yang sudi melihat "kemilau" pemikiran kaum rasionalis yang dipelopori Washil bin Attha' pada abad XIII itu. Bahkan, sebagian dari mereka--atas dasar perbedaan pandangan teologis- -menuduh penganut mazhab tersebut kafir dan sesat.

Sikap kurang menyenangkan semacam itu pernah dialami Profesor Harun Nasution,pemikir rasionalis dan penjaja pemikiran Mu'tazilah paling gigih di Indonesia. Harun Nasution, lelaki asal Mandailing, Sumatra Utara, yang mendapatkan gelar doktornya di Universitas McGill, Kanada, tahun 1968, meninggal dalam usia 79 tahun, akhir bulan lalu. Ia menulis tesis tentang pemikiran Muhammad Abduh, ulama modernis asal Mesir.

Dalam sebuah pertemuan ulama, Muhammad Hatta, mantan wakil presiden RI, pernah bertanya kepada Harun tentang tesisnya. "Mengapa tidak dipublikasikan saja?" tanya Bung Hatta waktu itu. Sebagai jawaban, Harun mengatakan, ia takut akan reaksi negatif dari sebagian umat Islam.

Ternyata dugaannya tak meleset. Ketika Harun mengungkapkan kesimpulannya dalam pembicaraan itu, bahwa Abduh seorang penganut Mu'tazilah, seorang tokoh Islam yang berada di dekat Harun dan Bung Hatta berkomentar, "Naudzubillah," ungkapan yang menyiratkan ketidaksukaan terhadap Mu'tazilah.

Bahkan, di kesempatan lain, cendekiawan Islam, Prof. Dr.H.M. Rasjidi, pernah mengecam pemikiran Harun, yang menurut dia dipengaruhi cara berpikir kaum orientalis.

Memang kaum Mu'tazilah, menurut cendekiawan Fazlur Rahman, guru besar studi Islam di Universitas Chicago, AS, telah membawa rasionalitas demikian jauh dengan menyejajarkan kemampuan akal dengan wahyu dalam menemukan kebenaran agama. Pemikiran Mu'tazilah, dalam konteks waktu itu, dianggap melampaui zamannya.

Beberapa tema pokok mazhab tersebut--seperti rasio disejajarkan dengan wahyu, manusia memiliki otoritas penuh atas perbuatannya, dan takdir Tuhan adalah final dengan diciptakannya sunatullah (hukum alam)-- cukup mempengaruhi cara pandang intelektual muslim hingga kini.

Harun, yang pernah menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, adalah salah satu pemikir yang berhasil membersihkan "debu" mutiara itu. Menurut Harun, teologi Mu'tazilah adalah embrio teologi rasional dan teologi liberal dalam Islam --dua aspek yang menurut pemikir terkemuka dari IAIN ini relevan untuk masyarakat modern.

Pemikiran ini berbeda dengan teologi fatalistik ala Asy'ariyah, mazhab teologi varian Jabbariyah, yang selama ini membentuk masyarakat tradisional. Menurut Harun, untuk memodernisasi umat, teologi Asy'ariyah harus diganti dengan teologi Mu'tazilah. Teologi yang fatalistik adalah biang kemunduran masyarakat muslim bagi Harun.

Implikasi dari teologi rasional, seperti diperlihatkan pemikiran-pemikiran Harun, memang tampak moderat, lebih terbuka terhadap peradaban dan kebudayaan lain, dan tak terjebak pada satu mazhab (desakralisasi mazhab). Namun, bedanya dengan rasionalisme dan liberalisme, dua narasi besar yang menjadi landasan peradaban sekuler Barat, menurut Dr. Komaruddin Hidayat dari Yayasan Paramadina, Jakarta, rasionalisme Islam tak sampai meninggalkan wahyu sebagai instrumen kebenaran.

"Seekstrem-ekstremnya pemikir Islam, wahyu tetap sebagai sumber utama. Hanya, ruang untuk akal diperluas serta penafsirannya lebih kontekstual dan liberal," kata Komaruddin. Itu juga yang terjadi pada Harun, yang mendesakralisasi mazhab-mazhab fikih tapi tak meninggalkan tasawuf.

Dalam bahasa Nurcholish Madjid, seperti termuat dalam buku Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam--70 Tahun Harun Nasution, Harun adalah "pembuka" pintu dalam mendekati wahyu secara rasional. "Sebuah langkah dari ribuan langkah yang memang harus ditempuh," kata Nurcholish.

Kelik M. Nugroho, Ardi Bramantyo

http://www.forums.apakabar.ws/viewtopic.php?p=2064&sid=90e3797e4891e32cf6267a4985e46c5c

Harun Nasution, Pembangun Fondasi Islam Modern

Jumat, 19 September 2003
Prof Harun Nasution
Pembangun Fondasi Islam Modern

Sepanjang hayatnya, ia dedikasikan dirinya pada dunia ilmu. Gagasan dan pemikirannya terasa mencerahkan kehidupan berbangsa dan beragama. Ia juga dinilai cukup berani dalam hal pemikiran keagamaan. Di bidang akademis, dia terbilang sukses, terutama dalam meletakkan dasar-dasar pemahaman yang baru tentang keislaman di kalangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia.

Profesor Harun Nasution, sosok pemikir yang dikenal luas, di dalam maupun luar negeri itu. Dilahirkan di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 23 September 1919, sejak kecil Harun dikenal gemar mendalami ilmu. Otaknya tergolong encer. Sementara semangatnya mencari ilmu menjadi spirit utama hidupnya. Bahkan di usianya yang setengah abad, ia belum punya rumah justru karena kecintaannya mendalami ilmu di negeri orang. Besar di Pematangsiantar, guru besar filsafat Islam ini adalah putra keempat Abdul Jabbar Ahmad, ulama, pedagang, hakim sekaligus penghulu di kota itu. Ibunya adalah seorang keturunan ulama Mandailing, Tapanuli Selatan, menguasai bahasa Arab karena pernah bermukim di Makkah.

Di usia 14, setelah tujuh tahun belajar di HIS dan tamat pada 1934, lelaki beristrikan gadis Kairo (Mesir) ini berniat masuk MULO, sekolah umum saat itu. Sayangnya, kedua orang tuanya kurang menyetujui. Untuk mengobati rasa kecewa kedua orang tuanya itu, Harun memutuskan masuk sekolah Islam, Moderne Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi. Ia tamat dan tamat pada 1937. Harun merasa cocok belajar di sekolah guru-menengah-pertama swasta modern pimpinan Abdul Malik Jambek, seorang ulama moderat di Bukittinggi. Di sekolah ini mulai terlihat daya kritisnya terhadap hukum-hukum Islam yang selama ini dijalankan kedua orang tuanya. Misalnya, bertolak belakang dengan apa yang dianut kedua orang tua dan masyarakat sekitarnya, sejak 64 tahun lalu itu dia sudah tahu bahwa memegang Alquran tanpa berwudlu terlebih dulu diperbolehkan menurut salah satu mazhab fikih.

Tapi, justru karena inilah dia dilarang melanjutkan studi ke HIK, sebuah sekolah guru Muhammadiyah di Solo. Dia dipaksa melanjutkan studi ke Makkah agar jadi lebih ''lurus''. Namun, merasa Makkah bukanlah tempat belajar yang baik, pada 1938 Harun hijrah ke Mesir dan melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar. Selepas dari Al-Azhar, Harun melanjutkan di Universitas Amerika di Kairo dan menyelesaikan studi sosialnya dengan gelar Sarjana Muda pada 1952. Pada 1953 ia kembali ke Indonesia dan bertugas di Departemen Luar Negeri bagian Timur Tengah. Tugas diplomatnya di luar negeri berlanjut kembali sejak ia bekerja di Kedutaan Republik Indonesia di Brussels mulai akhir Desember 1955.

Karena pengaruh komunis semakin kuat di Indonesia, Harun yang antikomunis memutuskan untuk keluar dari kedutaan. Untuk kedua kalinya, ia ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Harun memilih belajar di lembaga Ad-Dirasat al-Islamiyah (1960). Studinya di Mesir, lagi-lagi, tidak dapat diteruskan akibat kekurangan biaya. Ketika itulah ia menerima tawaran dari Prof Rasjidi --orang yang kemudian menjadi partner polemiknya di bidang pembaharuan dan pemikiran Islam-- untuk menerima beasiswa dari Institute of Islamic Studies McGill, Montreal, Kanada. Pada 1965, Harun memperoleh gelar Magister dari universitas tersebut dengan judul tesis yang masih dekat dengan sejarah tanah airnya: The Islamic State in Indonesia: The Rise of The Ideology, The Movement for Its Creation and the Theory of the Masjumi. Tiga tahun berikutnya (1968), ia memperoleh gelar Doktor (PhD) dalam bidang studi Islam pada universitas yang sama, dengan disertasi The Place of Reason in 'Abduh's Theology: Its Impact on His Theological System and Views. Setahun kemudian (1969), ia kembali ke Indonesia. Berbagai jabatan pernah ia pegang, baik akademis maupun pemerintahan.

Dari segi pemikiran, gagasan Prof Harun tak lepas dari petualangan panjangnya. Yang paling menonjol tentu saat ia menuntut ilmu di Makkah dan Mesir. Di kedua negeri inilah, ia terkagum dengan pemikiran tokoh dan pembaru Muhammad Abduh, terutama sekali tentang paham Mu'tazilah yang banyak menganjurkan sikap-sikap qadariah. Di kemudian hari, Harun dikenal sebagai intelektual Muslim yang banyak memperhatikan pembaharuan dalam Islam, meliputi pemikiran teologi, filsafat, mistisisme (tasawuf), dan hukum (fikih) saja, hingga masalah segi kehidupan kaum Muslim. Ada dua obsesi Harun yang paling menonjol. Pertama, bagaimana membawa umat Islam Indonesia ke arah rasionalitas. Kedua, terkait dengan yang pertama, bagaimana agar di kalangan umat Islam Indonesia tumbuh pengakuan atas kapasitas manusia qadariah.

Harun sering menyatakan bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam Indonesia adalah akibat dominasi Asy'arisme yang sangat bersifat Jabariah (terlalu menyerah pada takdir). Untuk itu, dalam berbagai tulisannya Harun selalu menghubungkan akal dengan wahyu, dan lebih tajam lagi melihat fungsi akal itu dalam pandangan Alquran yang demikian penting dan bebas. Harun memang sangat tersosialisasi dalam tradisi intelektual dan akademis kosmopolitan (Barat). Tapi, sesungguhnya hampir sepenuhnya dia mewarisi dasar-dasar pemikiran Islam abad pertengahan. Penguasaannya yang mendalam terhadap pemikiran-pemikiran para filsuf Islam, termasuk pengetahuannya yang luas terhadap dunia tasawuf, membuat ia dapat merumuskan konsep yang akurat tentang terapinya untuk membangun masyarakat Muslim Indonesia. Ia selalu mengatakan bahwa kebangkitan umat Islam tidak hanya ditandai dengan emosi keagamaan yang meluap-luap, tapi harus berdasarkan pemikiran yang dalam, menyeluruh, dan filosofis terhadap agama Islam itu sendiri.

Semua itu dia buktikan dengan mewujudkan tiga langkah, yang kerap disebut sebagai ''Gebrakan Harun''. Gebrakan pertama, dia meletakkan pemahaman yang mendasar dan menyeluruh terhadap Islam. Menurutnya, dalam Islam terdapat dua kelompok ajaran. Ajaran pertama bersifat absolut dan mutlak benar, universal, kekal, tidak berubah, dan tidak boleh diubah. Ajaran yang terdapat dalam Alquran dan Hadis mutawatir berada dalam kelompok ini. Kedua, bersifat absolut, namun relatif, tidak universal, tidak kekal, berubah dan boleh diubah. Ajaran yang dihasilkan melalui ijtihad para ulama berada dalam kelompok ini. Dalam ajaran Islam, lanjutnya seperti ditulis dalam Islam Rasional (Mizan), yang maksum atau terpelihara dari kesalahan hanyalah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kebenaran hasil ijtihad para ulama bersifat relatif dan bisa direformasi. Menurutnya, kedinamisan suatu agama justru ditentukan oleh sedikit banyaknya kelompok pertama itu. Semakin sedikit kelompok ajaran pertama, semakin lincahlah agama tersebut menghadapi tantangan zaman dan sebaliknya. Kenyataannya, kata Harun, jumlah pertama sedikit.

Gebrakan kedua dilakukan saat dia menjabat rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1973 (kini Universitas Islam negeri/UIN). Saat itu, secara revolusioner dia merombak kurikulum IAIN seluruh Indonesia. Pengantar ilmu agama dimasukkan dengan harapan akan mengubah pandangan mahasiswa. Demikian pula filsafat, tasawuf, ilmu kalam, tauhid, sosiologi, dan metodologi riset. Menurut dia, kurikulum IAIN yang selama ini berorientasi fikih harus diubah karena hal itu membuat pikiran mahasiswa jumud. Sedang gebrakan ketiga, bersama menteri agama Harun mengusahakan berdirinya Fakultas Pascasarjana pada 1982. Menurutnya, di Indonesia belum ada organisasi sosial yang berprestasi melakukan pimpinan umat Islam masa depan. Baginya pimpinan harus rasional, mengerti Islam secara komprehensif, tahu tentang ilmu agama, dan menguasai filsafat. Filsafat, ujarnya, sangat penting untuk mengetahui pengertian ilmu secara umum. Pimpinan seperti itulah yang diharapkannya lahir dari Fakultas Pascasarjana. Dampak dari usaha Harun sungguh luar biasa. Ciputat jadi hidup.

Berbagai gagasan Harun yang dikenal amat menjunjung tinggi rasionalitas dan metode ilmiah itu, tak sedikit kalangan menuduhnya sebagai pelopor gerakan mu'tazilah dan salah seorang penyokong sekularisme di Indonesia. Ini jelas terlihat dari karyanya berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Toh demikian, Harun tetap melaju membumikan Islam. Menurut Nurcholish Madjid, Harun telah memberikan sumbangan nyata bagi bangsa Indonesia dalam hal menumbuhkan ''tradisi intelektual'' yang dirintis di IAIN Jakarta, dan kemudian menghasilkan suatu gejala umum bahwa doktrin bukan sebagai taken for granted, justru di saat doktrin itu sudah mapan. Dia mempertanyakan relevansi doktrin itu kepada sejarah, bagaimana kaitannya dulu dan sebagainya. Inilah yang menghasilkan suatu kemampuan tertentu yang secara teknis disebut learning capacity. Harun, lanjut Cak Nur, telah berhasil menciptakan intellectual capacity sekaligus learning capacity.

Pola pemikiran Harun, dalam pandangan Cak Nur, sangat Abduhis. Etos atau penghargaannya terhadap Muhammad Abduh sangat tinggi. Obsesi Harun kepada Mu'tazilah mempunyai relevansi terhadap dua hal. Pertama, rasionalitas, sebab dampak dari etos kerasionalan itu ialah pembukaan yang mempunyai efek pembebasan. Kedua, pengakuan atas kapasitas manusia qadariah. Kemunduran kaum Muslim, kata Harun, salah satunya lantaran dominasi Asy'ariyah yang Jabbari. Betapapun, Harun telah menanamkan fondasi Islam modern Indonesia. Perjuangan panjangnya itu berakhir pada 18 September 1998, ketika Sang Khaliq memanggilnya untuk selama-lamanya. Kini, persis 5 tahun wafatnya, Harun seakan terus 'hidup' melalui gagasan dan pemikirannya.


Di Antara Karya dan Khomeini

Harun Nasution tergolong pemikir dan penulis produktif. Sedikitnya telah tujuh buku ia tulis. Yakni, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (bukan saja buku yang sangat laris, tapi itu sengaja dia tulis agar umat Islam bersikap moderat setelah melihat agama Muhammad ini dari berbagai sisinya. Buku lainnya, Filsafat Agama, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa dan Perbandingan, adalah karya yang sengaja ia buat dalam rangka memperkenalkan filsafat ke khalayak ramai dengan bahasa yang mudah dicerna.

Sedang Muhammad 'Abduh dan Teologi Rasional Mu'tazilah sengaja dia publikasi untuk memperkenalkan paham Mu'tazilah yang dialergikan banyak orang itu secara bersahaja, dengan satu obsesi: umat Islam di Indonesia harus segera meninggalkan budaya fatalistis yang membuat mereka mundur. Agar lebih komprehensif, karya itu dilengkapi dengan karyanya yang lain, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan/ serta Akal dan Wahyu dalam Islam.

Dari semua itu, ada satu obsesi penting Harun yang layak dicatat di sini. Dia berharap, dengan semua upanyanya itu, lahir ulama Indonesia yang mirip dengan Imam Khomeini. Pemimpin spiritual Iran itu adalah ulama sekaligus pemikir (ahli filsafat), atau pemikir yang sekaligus ulama. Jika banyak ulama sekaliber Khomeini muncul di sini, maka gagasan Alfarabi tentang al-Madinah al-Fadhilah sangat mungkin terlaksana. Ini karena menurut gagasan yang diadopsi dari konsep Plato tentang Negara Ideal itu, negara hanya akan makmur jika dipimpin para filsuf yang cerdas, bersifat warak, zuhud, dan karenanya pantang menyaksikan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). hery sucipto/berbagai sumber ()

http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=140408&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185

Mengenang Harun Nasution

Mengenang Harun Nasution; “Untuk Perjuangan Di Tanah Air”

Sepanjang hayatnya, ia dedikasikan dirinya pada dunia ilmu. Gagasan dan pemikirannya terasa mencerahkan kehidupan berbangsa dan beragama. Ia juga dinilai cukup berani dalam hal pemikiran keagamaan. Di bidang akademis, dia terbilang sukses, terutama dalam meletakkan dasar-dasar pemahaman yang baru tentang keislaman di kalangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Indonesia maupun dikalangan masyarakat luas.

Profesor Harun Nasution, sosok pemikir yang dikenal luas, di dalam maupun luar negeri itu. Dilahirkan di Pematangsiantar, Sumatra Utara, 23 September 1919, sejak kecil Harun dikenal gemar mendalami ilmu. Otaknya tergolong encer. Sementara semangatnya mencari ilmu menjadi spirit utama hidupnya. Bahkan di usianya yang setengah abad, ia belum punya rumah justru karena kecintaannya mendalami ilmu di negeri orang. Besar di Pematangsiantar, guru besar filsafat Islam ini adalah putra keempat Abdul Jabbar Ahmad, ulama, pedagang, hakim sekaligus penghulu di kota itu. Ibunya adalah seorang keturunan ulama Mandailing, Tapanuli Selatan, menguasai bahasa Arab karena pernah bermukim di Makkah.

Karena pengaruh komunis semakin kuat di Indonesia, Harun yang antikomunis memutuskan untuk keluar dari kedutaan. Untuk kedua kalinya, ia ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Harun memilih belajar di lembaga Ad-Dirasat al-Islamiyah (1960). Studinya di Mesir, lagi-lagi, tidak dapat diteruskan akibat kekurangan biaya. Ketika itulah ia menerima tawaran dari Prof Rasjidi --orang yang kemudian menjadi partner polemiknya di bidang pembaharuan dan pemikiran Islam-- untuk menerima beasiswa dari Institute of Islamic Studies McGill, Montreal, Kanada.

Pada 1965, Harun memperoleh gelar Magister dari universitas tersebut dengan judul tesis yang masih dekat dengan sejarah tanah airnya: The Islamic State in Indonesia: The Rise of The Ideology, The Movement for Its Creation and the Theory of the Masjumi. Tiga tahun berikutnya (1968), ia memperoleh gelar Doktor (PhD) dalam bidang studi Islam pada universitas yang sama, dengan disertasi The Place of Reason in 'Abduh's Theology: Its Impact on His Theological System and Views. Setahun kemudian (1969), ia kembali ke Indonesia. Berbagai jabatan pernah ia pegang, baik akademis maupun pemerintahan.

Dari segi pemikiran, gagasan Prof Harun tak lepas dari petualangan panjangnya. Yang paling menonjol tentu saat ia menuntut ilmu di Makkah dan Mesir. Di kedua negeri inilah, ia terkagum dengan pemikiran tokoh dan pembaru Muhammad Abduh, terutama sekali tentang paham Mu'tazilah yang banyak menganjurkan sikap-sikap qadariah. Di kemudian hari, Harun dikenal sebagai intelektual Muslim yang banyak memperhatikan pembaharuan dalam Islam, meliputi pemikiran teologi, filsafat, mistisisme (tasawuf), dan hukum (fikih) saja, hingga masalah segi kehidupan kaum Muslim. Ada dua obsesi Harun yang paling menonjol. Pertama, bagaimana membawa umat Islam Indonesia ke arah rasionalitas. Kedua, terkait dengan yang pertama, bagaimana agar di kalangan umat Islam Indonesia tumbuh pengakuan atas kapasitas manusia qadariah.

Harun sering menyatakan bahwa salah satu sebab kemunduran umat Islam Indonesia adalah akibat dominasi Asy'arisme yang sangat bersifat Jabariah (terlalu menyerah pada takdir). Untuk itu, dalam berbagai tulisannya Harun selalu menghubungkan akal dengan wahyu, dan lebih tajam lagi melihat fungsi akal itu dalam pandangan Alquran yang demikian penting dan bebas. Harun memang sangat tersosialisasi dalam tradisi intelektual dan akademis kosmopolitan (Barat).

Tapi, sesungguhnya hampir sepenuhnya dia mewarisi dasar-dasar pemikiran Islam abad pertengahan. Penguasaannya yang mendalam terhadap pemikiran-pemikiran para filsuf Islam, termasuk pengetahuannya yang luas terhadap dunia tasawuf, membuat ia dapat merumuskan konsep yang akurat tentang terapinya untuk membangun masyarakat Muslim Indonesia. Ia selalu mengatakan bahwa kebangkitan umat Islam tidak hanya ditandai dengan emosi keagamaan yang meluap-luap, tapi harus berdasarkan pemikiran yang dalam, menyeluruh, dan filosofis terhadap agama Islam itu sendiri.

Semua itu dia buktikan dengan mewujudkan tiga langkah, yang kerap disebut sebagai ''Gebrakan Harun''. Gebrakan itu diantaranya, dia meletakkan pemahaman yang mendasar dan menyeluruh terhadap Islam. Menurutnya, dalam Islam terdapat dua kelompok ajaran. Ajaran pertama bersifat absolut dan mutlak benar, universal, kekal, tidak berubah, dan tidak boleh diubah. Ajaran yang terdapat dalam Alquran dan Hadis mutawatir berada dalam kelompok ini. Kedua, bersifat absolut, namun relatif, tidak universal, tidak kekal, berubah dan boleh diubah. Ajaran yang dihasilkan melalui ijtihad para ulama berada dalam kelompok ini. Dalam ajaran Islam, lanjutnya seperti ditulis dalam Islam Rasional (Mizan), yang maksum atau terpelihara dari kesalahan hanyalah Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kebenaran hasil ijtihad para ulama bersifat relatif dan bisa direformasi.

Menurutnya, kedinamisan suatu agama justru ditentukan oleh sedikit banyaknya kelompok pertama itu. Semakin sedikit kelompok ajaran pertama, semakin lincahlah agama tersebut menghadapi tantangan zaman dan sebaliknya. Kenyataannya, kata Harun, jumlah pertama sedikit.

Berbagai gagasan Harun yang dikenal amat menjunjung tinggi rasionalitas dan metode ilmiah itu, tak sedikit kalangan menuduhnya sebagai pelopor gerakan mu'tazilah dan salah seorang penyokong sekularisme di Indonesia. Ini jelas terlihat dari karyanya berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Toh demikian, Harun tetap melaju membumikan Islam.

Obsesi Harun kepada Mu'tazilah mempunyai relevansi terhadap dua hal. Pertama, rasionalitas, sebab dampak dari etos kerasionalan itu ialah pembukaan yang mempunyai efek pembebasan. Kedua, pengakuan atas kapasitas manusia qadariah. Kemunduran kaum Muslim, kata Harun, salah satunya lantaran dominasi Asy'ariyah yang Jabbari. Betapapun, Harun telah menanamkan fondasi Islam modern Indonesia. Perjuangan panjangnya itu berakhir pada 18 September 1998, ketika Sang Khaliq memanggilnya untuk selama-lamanya. • Ugi”

http://filosof.blog.m3-access.com/posts/3303_Mengenang-Harun-Nasution-Untuk-Perjuangan-Di-Tanah-Air.html

Sunday, July 15, 2007

Prof Dr Muhammad Yasir Nasution


Jumat, 13 Oktober 2000
Muhammad Yasir Nasution
Cita-cita Santri dari Panyabungan
Kompas/surya makmur nasution

NAMA Prof Dr Muhammad Yasir Nasution (50), tidaklah sepopuler cendekiawan Prof Dr Nurcholish Madjid, Dr Komaruddin Hidayat, atau Prof Dr Azyumardi Azra. Namun, dilihat dari gagasan dan aktivitasnya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sumatera Utara, ia pantas mendapat tempat dan penghargaan sebagai seorang akademisi.

Sebagai seorang guru besar bidang filsafat hukum Islam, Yasir, panggilan akrabnya, menggagas konsep "Ekonomi dan Perbankan Islam". Tentu saja gagasannya menjadi kontroversi di kalangan akademisi di kampusnya. Pemikiran itu bukan saja sebagai hal baru, namun belum pernah terpikirkan sebelumnya. Lagi pula, gagasan itu dinilai berada di luar otoritas atau kajian keilmuan yang dikembangkan IAIN selama ini. Dari empat fakultas di IAIN Sumut (Syariah, Tarbiyah, Ushuluddin, dan Dakwah) tak satu pun yang langsung bersentuhan dengan gagasan tersebut. Apalagi, ia tak ada dasar keilmuan tentang ekonomi.

Sebagai ilmuwan, Yasir yang memperoleh gelar profesor tahun 1991, semula ragu menyampaikan gagasannya. Namun, keraguannya hilang tatkala ahli ekonomi senior dari Universitas Sumatera Utara (USU), seperti Prof Bahauddin Darus, Prof Abdullah Yacub, mendorong dirinya memprakarsai munculnya lembaga kajian ekonomi Islam. Bahkan dukungan pun datang dari ekonom muda Universitas Sumatera Utara (USU), seperti Jhon Tafbu Ritonga MEc dan Sofyan Syafri PhD (kini dosen Universitas Trisakti Jakarta).

Pakar ekonomi USU itu mengakui merindukan satu wadah kajian ekonomi dalam perspektif Islam. Menurut mereka, lembaga yang kompeten dan bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat adalah IAIN. "Saya pun tertantang," kata Yasir ketika ditemui di rumah dinasnya berukuran 6 meter x 10 meter di kompleks IAIN Sumatera Utara, Jalan Sutomo Ujung, Medan, 2 Oktober.

Bersama Dr Amiur Nurruddin, kini Dekan Fakultas Syariah, ia mendirikan Forum Kajian Ekonomi dan Perbankan Islam (FKEBI) tahun 1990. "Teman-teman di Syariah mengkaji dari sisi konsep muamalat (hubungan sesama manusia-Red) dalam Islam, teman ekonom USU mengeksplorasinya dalam perspektif Ilmu Ekonomi konvensional. Orang IAIN belajar matriks ilmu ekonomi umum, orang USU belajar matriks konsep ekonomi Islam," kata Yasir yang lahir 18 Mei 1950 di Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (510 kilometer selatan Medan).

Menurut Yasir, konsep ekonomi Islam memiliki perbedaan mendasar dari konsep ekonomi umumnya yaitu dari sisi metodologi, aksiologis, dan juga ontologisnya. Dari sudut metodologi, konsep ekonomi Islam memiliki prinsip nilai yang bisa dikaji secara dinamis. Secara aksiologis, memiliki tujuan dan arah, yaitu kesejahteraan dan keadilan. Sementara dari tinjauan ontologisnya, sistem ekonomi Islam mempunyai tujuan luhur. Dalam konsep Islam, antara pemilik modal dan pekerja diberi penghargaan proporsional atas prestasi kerja sehingga ada kesejajaran. Keberhasilan seseorang dinilai bukan dari dirinya sendiri, melainkan banyak faktor.

"Itu semuanya beranjak dari konsep Islam yang memandang manusia secara integral, yaitu secara material, spiritual, sosial, dan lainnya," ungkap alumnus S2 dan S3 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara dalam konsep ekonomi Barat, penghargaan cenderung kepada pengusaha sebagai pemilik modal. Semua permasalahan, selalu timbul dulu deviasi baru dicari jalan keluar. Bahkan kesuksesan kerja dominan dinilai dari faktor diri sendiri.

***

UNTUK mewujudkan gagasan itu, FKEBI bekerja sama dengan USU, PT Bank Sumut (dulu Bank Pembangunan Daerah Sumut), membuat Simposium Nasional Pemasyarakatan Bank Muamalat Indonesia (BMI). Sebelumnya, Yasir mengikuti pertemuan The Third International Conference on Islamic Economy di Kuala Lumpur, Malaysia yang diprakarsai Universitas Islam Antarbangsa (UIA), Malaysia. Hasilnya, Yasir banyak mendapatkan masukan pemikiran, terutama pesatnya perkembangan Bank Islam di Malaysia dengan sistem bagi hasil (mudlarabah, musyarakah).

IAIN melalui FKEBI juga melakukan workshop internasional tentang "ekonomi Islam" bekerja sama dengan Universitas Islam Antarbangsa dan Institut Kesepahaman Islam, Malaysia, tahun 1993. Lalu muncul ide mewujudkan konsep ekonomi Islam secara kelembagaan.

"Atas bantuan teman-teman berdirilah Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Puduarta Insani milik IAIN yang lokasinya berada di Tembung, Kecamatan Medan Tembung, tahun 1996. Nasabahnya 40 sampai 50 persen dosen dan pegawai IAIN," kata Pembantu Rektor I IAIN Sumut sejak tahun 1997.

Untuk menjaga kesinambungan gagasannya, tahun 1997, Yasir yang juga anggota pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut (1992 sampai sekarang), membuat program Diploma III, Manajemen Keuangan dan Perbankan Syariah. Program ini satu-satunya yang dimiliki IAIN di seluruh Indonesia.

Bahkan setelah ia memprakarsai berdirinya program pascasarjana di IAIN Sumut (1994), tahun ajaran tahun 2000 ini membuka program studi Ekonomi Islam melengkapi program studi hanya Dirasah Islamiyah, Pemikiran Islam dan lainnya.

***

SEMASA belajar di Sekolah Rakyat (SR) Negeri I di Panyabungan, Yasir sudah bercita-cita menjadi ahli ekonomi karena melihat nasib ayahnya, H Abdul Baki Nasution, dan ibunya, Siti Arbi, sebagai petani miskin. Yasir tak diizinkan ayahnya (almarhum) melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP), melainkan dimasukkan ke Pesantren Mustafawiyah, Purbabaru, Mandailing Natal. Harapan ayahnya, ia bisa menjadi ulama atau ahli agama, melanjutkan cita-cita ayahnya sebagai penghafal Al Quran.

"Begitu kuatnya keinginan melanjutkan ke pesantren, oleh ayah, guru-guru di sekolah dipengaruhi agar tak meluluskan saya dari SR. Padahal, prestasi saya bagus," ungkap ayah tiga putri buah perkawinannya dengan Ny H Hasibuan (44).

Semasa di pesantren, penggemar lagu-lagu Umi Kalsum ini bukan cuma belajar agama saja melainkan juga bahasa Inggris. Ia juga menambah wawasan pengetahuan umumnya dengan minta dikirimi koran bekas dari seniornya yang kuliah di Medan, sebulan sekali. Tamat dari pesantren, Yasir melanjutkan kuliah ke Fakultas Syariah IAIN Sumut atas bantuan beasiswa dari Menteri Agama terhadap santri yang memperoleh peringkat satu sampai 10.

Di kampus ia dikenal kritis oleh dosennya. Malah gara-gara ia protes bahwa mahasiswa tak harus pakai peci mengikuti kuliah, ia pernah disuruh pulang oleh dosennya. "Saya pun pulang," kenangnya. Perkenalannya dengan kelompok diskusi Mahasiswa Willem Iskandar (MWI), Medan, membuat dirinya mengenali ilmu-ilmu umum.

Yasir mengakui, Prof Harun Nasution berjasa membuka wawasan pemikirannya tentang Islam, terutama pernyataannya tentang pintu ijtihad dalam Islam belum ditutup dan malah bersifat dinamis.

Kini Yasir yang pernah mengikuti kursus singkat pendidikan manajemen di Institut Manajemen, McGill University, Montreal (1995), terpilih menjadi Rektor IAIN Sumut pada 25 Agustus. Ia meraih 22 suara sedangkan sahabatnya Prof Dr M Ridwan Lubis meraih 12 suara. Dapatkah ia meneruskan impiannya setelah memimpin IAIN Sumut? "Insya Allah jika diberi amanah, saya lebih mudah mewujudkan gagasan-gagasan saya di masa depan. Bagi saya IAIN masa depan adalah IAIN yang memiliki kompetensi standar global," jawabnya. (Surya Makmur Nasution)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0010/13/naper/cita12.htm

Friday, July 13, 2007

Mochtar Lubis, The Crusading Journalist


Mocthar Lubis

Known for his exposés of government corruption and inefficiency, the legendary Indonesian editor Mochtar Lubis was jailed by two presidents while his newspaper, the daily Indonesia Raya, was banned six times. “Unable to report except accurately or to comment except honestly, he was bound to get into trouble with the despot Sukarno and the autocrat Suharto,” said author and journalist Robert Elegant.

Lubis was first imprisoned in December 1956. As a result of strong protests by the International Press Institute (IPI) among others, he was transferred to house arrest in January 1957. However, he was neither charged nor set free until April 1961. That year, he was given a hero’s welcome at the IPI General Assembly in Tel Aviv, where he attacked Sukarno’s treatment of the press in a courageous speech.

On returning to Jakarta from Tel Aviv, Lubis was promptly arrested and jailed. From a military prison in Madiun, hundreds of kilometers from his Jakarta home, Lubis smuggled out occasional letters, some of which were printed in IPI Report. After nine years in prison, he wrote: “I am a stubborn old fool and am fully convinced that our era is the era of human freedom and human cooperation and not the era of human enslavement and inevitable confrontation. ... But only a truly free press can help build up traditions of freedom, the respect of law, for public rights, for private rights, to fight against the abuse of power, against corruption — moral and material.”

Lubis was freed after nearly 10 years in jail following the overthrow of Sukarno. After his release, he revived Indonesia Raya in 1968 and resumed his role in pointing out government corruption. Lubis was soon to be in trouble again — this time for exposing corruption in the new government and among President Suharto’s family members. Along with many other publications, Indonesia Raya was closed down for good after the riots that accompanied the 1974 visit to Indonesia by the Prime Minister of Japan, Kakuei Tanaka. A year later, in February 1975, Lubis was again arrested. After weeks of interrogation by the military, he was imprisoned on charges of sedition for allegedly having mobilized students to demonstrate against the Japanese prime minister’s visit. The international press came forcefully to his defense, and he was released after two and a half months in prison on Apr. 15.

Mochtar Lubis was born on Mar. 7, 1922. Before taking over the editorship of Indonesia Raya in 1952, he worked as foreign affairs editor of the Indonesian National News Agency, Antara, from 1945 to 1952, and published the first English-language newspaper in Indonesia, the Times of Indonesia, in 1952. In 1966, he founded a cultural and literary monthly, Horison. A former member of the IPI Executive Board and chairman of IPI’s National Committee in Indonesia, he is also a renowned novelist, poet and essayist.

Lubis’s courage during the Sukarno and Suharto years became a byword in Asia and wherever the press was under attack. He was long ignored by the self-censoring media in his own country because of his firm belief that universal human rights should not be superseded by the notions of unity and nation-building. However, he is today regarded by his countrymen as the doyen of the Indonesian press and a symbol of courageous and independent journalism.

http://www.globaljournalist.org/archive/Magazine/Lubis-20002q.html